Siapa yang tidak mau menjalani gaya hidup produktif? Mengerjakan tugas tanpa terburu-buru, menyelesaikannya di tepat waktu, dan tetap memiliki kesempatan istirahat bersama keluarga, sahabat dan masyarakat. Sebelum memasuki pembahasan Islam dan produktivitas, mari sedikit kita pelajari asal muasal produktif itu sendiri.
Di pertengahan abad ke-17 hingga awal ke-18, dunia barat mengalami hubungan yang kurang baik dengan tempat peribadatan mereka dan agama secara umum. Para ilmuwan barat yakin bahwa untuk meningkatkan kerja manusia, manusia harus menjauhkan agama dan spiritualitas dari diri mereka. Dengan begitu, manusia dapat menggunakan akalnya bagi kemajuan ekonomi dan sosial. Langkah ini kemudian diterapkan pada banyak perusahaan. Dan tiba di tahun 1980-an sampai 2000-an, terjadilah kemajuan produktivitas teknologi yang besar.
Melihat kenyataan itu, semua tampak seperti kemajuan positif bagi masyarakat manusia. Namun kita juga tidak bisa memungkiri segala perubahan tersebut dicapai dari ‘pengorbanan’. Seperti hancurnya hutan karena penebangan yang berkelanjutan, atau para pekerja pabrik yang bekerja sepanjang waktu demi memenuhi permintaan dunia modern yang tak pernah jenuh. Sehingga tujuan menjadikan manusia produktif ini tanpa sadar memaksa manusia hidup dalam persaingan yang sulit dikejar.
Tanpa sadar, manusia memang tengah hidup dengan produktif, tapi kita kehilangan tujuan, nilai-nilai, dan jiwa kita sendiri.
Islam, sebagai wahyu terakhir bagi umat manusia, melengkapi segala ilmu yang kurang dan menyempurnakan yang masih belum sesuai. Islam memandang produktivitas sebagai alat, bukan tujuan. Apa tujuan manusia hidup? Sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, hidup untuk mempersiapkan bekal kehidupan setelahnya.
Nilai-nilai yang dijunjung Islam seperti amanah, jujur, adil, ihsan, al-jidd (kesungguhan), rahmah (kasih sayang) dan lain sebagainya mendorong kita berbuat produktif untuk diri sendiri, orang lain, pun lingkungan sekitar dengan melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak-haknya.
Islam juga menjadi satu-satunya agama yang menawarkan sistem praktis dan seimbang bagi jiwa dan tubuh kita. Islam menganjurkan manusia untuk bekerja dan memuji orang yang sungguh-sungguh di dalamnya. Di samping itu, Islam juga memerintahkan manusia untuk shalat lima waktu. Merehatkan jiwa tuk kembali giat lagi bekerja. Allah menjadikan siang sebagai waktu mencari penghidupan, dan menjadikan malam sebagai waktu peristirahatan.
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.“ (QS. Al Qashas: 73)
Jadi, siap menjalani gaya hidup produktif dengan membawa tujuan, nilai-nilai dan jiwa kita? Semoga menjadi pribadi muslim yang baik keislamannya seperti sabda Nabi,
“Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah (dia) meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)
Dan semoga kelak kita bisa melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada kita dengan baik.
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar