08 Februari 2019
Menuju 69 Hari Apa Di Benak Mahasiswa (17 April19)
17 April 2019, selalu di dengung-dengungkan puncak demokratis, seperti megah nan riang penuh warna emas yang sangat berharga. Apakah betul seperti itu, apakah sesuai dengan kondisi seperti ini, apakah pas di dalam negara demokratis ini. Masih di pertanyakan ?.
Ketika setiap awal politik dalam kubu A dan kubu B mulai berkontestasi untuk menoreh kemenangan di mata rakyat, yang seakan-akan siap menjadi buruhnya para rakyat, dan akan siap menampung semua relasi-relasi keluhan rakyat, yang seakan-akan siap menjalankan apa yang ada di catatan kertas putih.
Dengan gagah beraninya, 2 periode dan siap menggantikan 2 periode. Apakah hal itu tersadar di benaknya, kalau yang mereka duduki singgasana yg nan mewah itu, berasal dari punggung-punggung rakyat. Apakah nantynya mereka akan tersadar, di balik terbentuknya pintu gedung istana dari ciptaan keringat rakyat jelata.
Ketika rakyat menangis, mengadu kepada calon yg baru. Begitu juga ketika rakyat yang bangga dengan hasil 1 periode, menginginkan 1 periode kembali. Apakah tersadar calon-calon tersebut sebuah amanah akan terjalankan dan terselesaikan.
Begitu gagahnya janji pertama sudah engkau ingkari, dan menciptakan janji yang baru, yg akan siap2 di ingkari kembali. Begitu juga begitu gagahnya engkau seakan-akan siap menjalankan janji-janji tersebut, apakah akan siap2 juga akan ikut mengingkari hal tersebut. Tapi kami pemuda berpandangan, pejabat tanpa ingkar gak akan punya namanya penjabat.
Di sinilah peran mahasiswa /pemuda, membentuk ideologisme yang mempunyai peran yang sangat reprensif kepada para calon calon pemimpin negri ini. Agar terbentuknya pemimpin yang bertanggung jawab dan sesuai dengan mulut manis yang terucap saat saat kampaye.
Tahun setiap tahun, tipe bentuk politik di indonesia selalu berubah-berubah, dan tak ubahnya saling menjatuhkan, lupa mana haram dan halal. Seakan-akan terbentuknya jiwa nasionalisme yang patriot penuh dengan kesatria, yang akan siap bertarung mati-matian demi kelompoknya.
Mahasiswa / pemuda selalau menggaungkan agent of change ( agen perubahan). Harus bisa memberikan kontribusi dan solusi, jangan hanya bisa merengek layaknya bayi yang kelaparan dan kehausan. Di abad 21 harus mempunyai pemikiran yang moderen sesuai dengan industri 4.0 menuju 5.0.
Dengan hal itu sampai kapan juga. Siapa pun dia peran mahasiswa sangatlah di butuhkan untuk melakukan perlawanan terhadap razim yang zalim. Akankah dengan perlawanan saja rezim akan tertantang untuk lebih baik. Saya rasa tidak akan terpengaruh terhadap rezim, jika mahasiswa tidak menciptakan suasana yang reprensif terhadap pemimpin tersebut.
Jika untuk melihat pemimpin itu lugas, pandai dan cekatan terhadap permasalahan, maka manset KPU harus kita rubah, yang mana KPU sebagai wasit, yang sudah di anggap adil dalam memimpin pertandingan. Mahasiswa harus memberikan masukan atau kontribusi, seperti debat di depan khalayak mahasiswa. Agar di sana akan di gembleng oleh mahasiswa, sampai mana capres bisa mengatasi pertanyaan2 dari mahasiswa.
Seperti halnya yang pernah di demo oleh aliansi mahasiswa di depan KPU pusat, dengan meminta kepada KPU harus merealisasikan debat di kampus, dihadapkan oleh para mahasiswa.
Elit politik pun mendukungnya, seperti RG Yang mana beliau yang mengucapkan pertama di acara diskusi di salah satu stasium tv. Dia mengucapkan harus ada debat capres di kampus, agar capres di gembleng kemampuannya di depan para intelektual. Jika salah satu capres tidak datang tidak apa2. Mau bawa alat catatan tak apa apa. Tapi di sana akan nampak, mana bener2 pemimpin yang terbaik.
Akankah mahasiswa mampu melakukan itu, apakah hanya segelintir saja yang mau melakukannya. Di karenakan terkadang pemimpin mahasiswa sendiri membungkam para mahasiswanya untuk melakukan beda berpendapat, karena beda pilihan, atau mungkin sudah menjadi timsesnya salah satu capres tersebut.
Jika pemimpin mahasiswa sendiri tidak mengajarkan netralitasnya sebagai mahasiswa yang tanpa memandang bulu siapa pemimpin negara. Maka saya yakin, budak budak capres terbesar adalah mahasiswa.
Ketika mahaisiswa mampu memberikan pergerakan yang tanpa adanya embel2 politik tanpa kesukaan capres, maka 1 abad pun usia indonesia, pasti akan terkontrol oleh para kaum intelektual yaitu pemuda / mahasiswa.
Di sinilah peran besarnya mahasiswa, bagaimana pun caranya harus bisa mengendalikan siapa sebenarnya mahasiswa. Bukan karena menjadi ucapan timses salah satu calon, yang sudah di fasilitasi oleh pecundang2 dasi merah.
Pengontrolaan mahasiswa terhadap puncak demokrasi tersebut sangat lah penting untuk menjaga keharmonisan dalam keadilan, agar aman dan jujur dalam pemilu serentak tersebut. Yang mana mahasiswa yang mempunyai jiwa kritis dan berani dalam melakukan tindakan.
Maka mahasiswa harus di ikut sertakan, dalam pengawasan. Bukan hanya bawaslu saja atau pun yang lainnya. Agar mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana tata cara kelola dan berproses yang sesungguhnya dalam mensukseskan pemilu serentak.
Oleh karena itu pihak yang terkait seperti pemerintah harus memberikan suatu data yang transparansi agar bisa selalu di awasi dan di jaga kemartabatan seorang pemimpin. Jadi jangan salah jika rakyat akan selalu mendesak sebuah transparansi itu selalu ada.
Bener kata politis, Hoax yang hebat adalah dari penguasa, mereka mempunyai media, intel, dan lain-lainnya. Oleh sebab itu pemuda / mahasiswa sangat mendesak kepada calon capres yang masih menjabat sebagai presiden, maka segera mungkin untuk mengajukan cuti. Karena sangat rawan penyalahgunaan jabatan untuk kampanye.
Maka sebagai petahana harus tunjukan keberaniannya jika memang mampu untuk 2 periode, lepaskan jabatan mu jika mau, kalau tidak lakukanlah cuti, agar calon tersebut bener2 akan membela untuk rakyatnya.
Mahasiswa/pemuda, kita tingkatkan untuk menjadi pelopor perubahan, yang mana ketika terjadi kesulitan di negara untuk mempecahkan masalah, tidak harus ditanyakan lngsung pada yang tua. Akan tetapi tanyakan pada yang muda. Karena yang muda mempunyai pemimiran yang tajam dan kreati, sedangkan yang tua hanya punya pengalaman, pengalaman yang tetap saja seperti ini negara, biarlah yang tua menyanyikan kenangan pengalaman, akan tetapi yang muda yang tajam dan kreatif. Seperti sahabat umar, pada zamannya, ketika terjadi sebuah kesulitan di negaranya, maka umar mengumpulkan yan muda2 untuk melakukan diskusi, karena yag muda mempunyai pemikiran yang tajam, dan mempunyai jiwa semangat untuk negaranya lebih baik. Bukan pengalaman dari orang2 tua, karena pengalaman mereka tidak pernh menyelesaikan masalah negara.
Langganan:
Postingan (Atom)
REVOLUSI PEMUDA MENUJU DESA MAKMUR
REVOLUSI PEMUDA MENUJU DESA MAKMUR Oleh: A Dhakirillah Indonesia memiliki aneka ragam terhadap budaya, ras, suku, agama. Setiap zona...
