18 Agustus 2018

RINTIHAN TUNAS TUNAS MUDA & TERTAWANYA ULAT ULAT INTELEKTUAL

RINTIHAN TUNAS-TUNAS MUDA. & TERTAWANYA ULAT-ULAT INTELEKTUAL
• Gelapnya Awan Hitam
Mendung begitu gelap pertanda hujan akan turun. Terkadang hanya ramainya gemuruh yang di dapatkan. Hujan itu bisa deras dan bisa hanya grimis semuanya itu pasti terjadi. Akankah para pejilat seperti itu. Penuh kerja keras untuk mencapai sesuatu yang telah di rencanakan. Apakah akan berhasil mungkin bisa jadi akan berhasil. Rela gelap-gelapan rela penuh cacian rela menjadi tempurung. Padahal tempurung bisa dimanfaatkan dan bisa di buang di sana. Apakah kedunguan itu akan tetap terpelihara dan di sebar luaskan kepada calon-calon pencandu kelabong.
Petir pun mengglegar kuat untuk menyambut ketenaran dan seperti raja penguasa. Serasa hak-haknya dia saat melihat di bawah. Tak terpedulikan masa depan generasi yang akan melanjutkan kemerdekaan ini. Apa bedanya dengan ular yang mendesis akan tetapi dia memberikan racun yang mematikan. Tak sadarkah itu wahai kaum yang katanya intelektual.
Berjam-jam hujan turun dengan derasnya tanpa di sadari  menenggelamkan apa yang ada di bawahnya. Serasa tak berdosa akan hal itu yang menyebabkan kehancuran dan mematikan rasa hak- hak manusia tertindas. Sungguh nyaris dunia ini di tangan orang yang seperti tempurung. Akan di bawa kemana dunia ini. Keadilan di pandang seperti bakpau yang enak di komsumsi. Tapi mereka tidak menyadari bahwa bakpau itu mudah hancur mudah basi akankah terbuang lagi jika terjadi hal itu.
Pohon pun bergoyang kuat demi mengikuti irama angin dia terima terkadang tumbang karena selalu di beri suapan bujukan yang katanya dia intelektual begitulah ketenaran dan mencapai orang yang didepan.   Dengan menggunakan visi misi yang penuh rekayasa untuk mendapatkan suatu individu yang akan menjadi sebuah populasi untuk mewujudkan suatu ke dungu an intelektual.
Ketika pemikiran regenerasi baru di cuci dengan merangkum nilai-nilai yang menguntungkan pribadi dengan mempengaruhi hasil intelektual yang dungu yang menyebabkan kematian pemikiran para jiwa muda. Alangkah sadisnya permainan ini ketimbang dari pada permainan pertandingan smack down yang hanya melukai jiwa saja. Lain dengan permainan intelektual lebih menyakitkan dan merusak dan mudah menular ke jiwa muda lain.
Andaikan semua itu nampak star dan finishnya pasti akan di lakukan renovasi secara seksama tanpa menjatuhkan lawan tersebut. Kenapa hal ini tak bisa di lakukan, apakah tempurung itu sudah membuat pasukan yang siap tempur, dan sudah memegang waktu-waktu yang akan di eksekusikan olehnya. Pasti akan terjadi sebuah bencana pada jiwa muda tersebut yang akan datang.
Gedung-gedung yang wah katanya akan muncul dari dataran bumi dan ternyata lain rasanya seperti bentuk gambar yang di dalam kaca, akankah hal itu akan terjadi kedepannya, mungkin terjadi dan mungkin bisa tak terjadi. Alangkah hebatnya dalam menyusun permainan itu, wasit pun tidak mengetahui sebuah pelanggaran dan tak terkeluarnya sebuah kartu  Merah atau pun kartu kuning. Hanya populasi suporter yang meraung-raung kesakitan atas hal itu yang gak bisa mana yang terbaik.
Ketika sebuah jalan yang tertuju ketempat orang-orang intelektual, ternyata hanya jalan buntu yang penuh hewan buas dan pohon-pohon besar yang menghalangi serta jurang-jurang yang sangat dalam. Begitu besar rintangan kaun muda untuk mencari kebenaran dan membenarkan suatu kesalahan yang fatal tersebut. Setan-setan hutan yang seram mengejar sampai ke ujung dunia hanya demi sebuah keinginan nafsu belaka yang penuh pecundang dan penjilat.
Rasa sakit yang di rasakan para kau jiwa muda tersebut, mata mereka tertutupi oleh sebuah hasil intelektual para tempurung yang penikmat darah-darah muda dan segar. Sungguh kecewa pejuang bangsa yang telah hidup di surga sana, sampai tega-teganya mengeksplositkan keninginan kemerdekan negara yang indah ini  demi kemakmuran dan kesejahteraan manusia dengan menjalankan sebuah keadilan yang indah, tapi nyatanya mereka di gantung lehernya sampai lidahnya keluar dengan rasa tanpa ampun demi menjilat sebuah ketenaran yang katanya kemerdekaan.
Dinamika kehidupan seperti kupu-kupu ketika lepas dari kepompong. Jiwa muda masih senang-senangnya dalam kehidupan dia sendiri, mereka  tak sadar sama dunia ini terdapat dalang yang sangat sangat tersebut. Pencundang pun mulai beraksi lagi  denga gaya- gaya profesional yang hebat itu deengan seyuman yang penuh madu yang tercampur oleh racun sianida yang mematikan.
Berbagai pelajaran sudaah di pelajari  dan sudah di ketahui akaan tetapi pasti akan adabyang terpojok demi suatu hal menurutnya kesenangan kekal. Akan kah hal itu selalu akan terjadi demi hal sesat itu. Pernahkah dirinya berfikir. Pernahkah dirinya menyadari hal gitu. Apakah sudah makan bangku sekolah. Etika mudah di beli. Kebijakam mudah di minta. Keadilan mudah angkat, semuanya tanpa ada pertimbangan yang matang, tanpa terpenuhnya tanggung jawab.
Pahit telah di rasakan dan pedasnya kehidupan pun selalu di rasakan, akankah tidak merasakan  suatu kepahitan yang orang lain rasakan, sunngguh miris pengorbanan mu hanya sebuah ketenaran, sampai-sampai tak terciptanya kepekaan kehidupan, apakah telah mati suri intelektual anda, apakah memang mati beneran, sampai- sampai gak tau pandangan mana yang harus di pandang.
Ketika tunas-tunas muda bermunculan, sungguh bangga dan gagahnya saat menyambut tunas-tunas muda tersebut. Dunia akan merekam kebejatan para penjilat yang penuh arogan saat melahap tunas-tunas muda, pasti akan nampak ulat-ulat mana yang menyerbu tunas tersebut. Akankah hal itu terfikirkan lintasan kebaikan dan kebajikan, bahwa di balik tunas-tunas muda itu sudah tersiram oleh pupuk yang menyehatkan, apakah tidak bisa menghargai. Sampai- sampai memberikan racun pada tunas tersebut agak mati tunas-tunas muda itu, dimana pemikirannya yang katanya setinggi langit itu.
Apakah tidak sadar jarum itu tajam ujungnya, dengan angkuhnya dan sombongya kebal terhadap tajamnya jarum. Berinsiatif ingin menguasai ketajaman dunia ini, sampai-sampai menutup mata dan pemikirannya, yang saat memejam mata seperti sudah memeluk bumi dan dunia ini. Tetapi mereka tidak menyadari dari pihak lawan juga sudah segerombolan pemikiran dan penglihatan dengan terbuka luas, bukan hitam semata apa yang di lihat.
Racun apa yang engkau berikan kepada jiwa muda ini. Sungguh pahit di rasakan, tak tahan rasanya bagi orang yag peduli terhadap generasi muda yang super inteelektual ini. Mereka tidak tahu janganlah kau berikan madu, madu yang sudah engkau berikan campuran perusak jiwa pemikirannya. Sungguh parah wahai kecebong.
Andaikan didunia ini ada intelejen untuk menangani penjilat dan kecebong, pastinya akan di terapkan UU atau peraturan untuk memberantas sebuah kedunguan tersebut. Dan akan di hukum seberat- beratnya demi terwujudnya sebuah keharmonisan dan kebahagian keadilan yang sesuai keinginan para pengingin kebahagian tersebut.
Kaku rasanya tangan ini untuk melakukan kebaikan begitupun kaki berat untuk melangkahkan untuk memperjuangkan hak hak yang harus di rasakan pada orang-orang yang tertindas. Akan kah mereka paham , jika akan terjadi bencana besar-besaran yang tidak bisa di elakkan setiap jiwa muda ini yang akan  muncul lagi di permukaan bumi ini. Kasian mereka ketika mulai dalam berfikir, mereka sudah di tindas dengan pemikiran racun sianida  yang mematikan.
Terkadang orang yang tertindas hanya bisa mengeluh kepada orang yang tertindas juga  dan begitu sulit yang mereka rasakan walau pun hanya mengungkapkan dengan kata-kata, hati mereka tersayat bagaikan tertusuk duri dan di siram dengan garam, pemikiran dia pecah tak terelakkan, mata dia tertutup buta tak tau harus ke arah mana, bagaikan di tengah-tengah hutan yang super gelap dan penuh rekayasa binatang buas yang siap mencekram orang-orang yang mulai sadar dalam kegilaannya.
Serasa doa yang hanya terhalang oleh payung hitam, ketika menjadi taradisi untuk ke makan dan juga sebagai pelindung hujan yang membasahi badan yang lemah ini. Akankah ada yang peduli dengan hal itu, demi terbebasnya kaki untuk bergerak demi mencari sebuah kebebasan dan untuk berfikir untuk kebersamaan dan mencapai keadilan sesuai dengan pri kemanusiaan.
Gemuruh suara pendukung yang sudah terkena racun-racun yang mematikan yang mereka tak sadar kalau itu semua sudah di ikat rantai yang kuat dan di tambah kunci emas yang tahan atas karat-karat yang bandel. Di bakar di pukul begitupun seterusnya owhh sakit sakit sekali bos. Semua itu perjalannya memang mulus, karena di dasari oleh intelektual yang sehat, tapi semua penuh dengan pernainan yang halus seperti tisu dan mudah di bakarnya. Lenyap sudah intelektual sehat itu sesaat dengan kobaran api yang berkorban.
Sungguh bahagia sekali wahai kawan, apakah tidak pernah terfikirkan oleh mu walaupun sejenak terlintas wahai sahabat. Kita ini sedang di serang hama yang anti racu, sebanyak apapun penangkal ataupun sekuat apapun temeng kalian, kalian akan terbawa arus banjir bandang yang penuh warna coklat
Ketika rakyat menangis darah. Kita hanya bisa melihat sebuah data yang katanya sudah dari bawah. Apakan kalian menyadari dunia ini ibarad botol, yang mana di dalam botol itu ada rakyat berbagai versi, sedangkan tutupnya itu data kongrit atas dalam botol tersebut. Apakah akan menyadari hal itu. Apakah nampak apa yang terjadi pada dalam botol. Karena tertutup oleh botol dan botol. Apakah kalian tau dalam botol di isi apa, begitulah rialita  data dan kenyataannya.

REVOLUSI PEMUDA MENUJU DESA MAKMUR

  REVOLUSI PEMUDA MENUJU DESA MAKMUR Oleh: A Dhakirillah Indonesia memiliki aneka ragam terhadap budaya, ras, suku, agama. Setiap   zona...